Tentang prinsip dan konflik

Ada 3 cara untuk melewati tembok. Satu, bikin bolongin semuatnya tubuh anda untuk lewat; dua, panjat temboknya; dan yang ketiga ancurin ajah temboknya semua terus lewatin ajah semaunya.

3 cara ini tanpa sadar muncul ketika saya berada di depan tembok saya, yakni segala macam problem dalam hidup saya. Entahlah, mulai dari problem kuliah, kerjaan, atau mungkin kerennya adalah problem dengan diri saya sendiri. Kenapa keren? Mungkin sebenarnya anda juga kerap kali merasakannya, tapi bagi saya banyak sekali prinsip-prinsip yang saya buat untuk diri saya yang kadang jadi boomerang buat diri saya pribadi. Mudahnya, kadang saya yang buat prinsip tapi kerap kali saya harus berperang dengan prinsip yang saya bangun tersebut. Jelas itu adalah tembok.

Masalah prinsip dan standart hidup memang cukup rumit, apalagi bagi orang yang sangat berprinsip juga orang yang sangat tidak berprinsip. Prinsip itu akhirnya yang akan menentukan keputusan. Masalah konsekuensi sebenarnya cuma beda di waktunya saja.

Orang berprinsip akan cenderung mengambil keputusan dengan cepat (karena udah punya prinsip), tanpa mikirin konsekuensi, dan ketika konsekuensi itu datang… Dhuaar! Harus ambil keputusan lain lagi. Sedangkan orang yang kurang berprinsip mungkin cenderung mengambil keputusan dengan pikir panjang (karena ga ada prinsip yang ia pegang), pastinya lebih mikir konsekuesinya yang sebenernya ga perlu dipikir pun akan datang dengan semestinya. Ya kan?

Untuk setiap konflik apapun yang kita hadapi, sebenarnya tanpa sadar prinsip kita diuji. Setiap konflik mungkin bagi saya adalah tembok eksternal, sedangkan tembok internalnya adalah prinsip yang kita pegang. Contoh simplenya, konflik adalah saat anda diperhadapkan dengan pilihan apapun, misalnya mencari pekerjaan. Prinsip adalah anda mau sesuai passion tapi gaji kecil atau pekerjaan dengan uang yang besar tapi ga suka-suka amat.

Nah kembali lagi ke 3 cara menghancurkan tembok di awal. Gaulnya, apakah kita penganut paham ‘Stick to the rule’ atau ‘Break the rule’ terhadap prinsip yang sudah kita set bahkan ketika kita berada dalam konflik.

Cara pertama mungkin cenderung cara melewati konflik yang so-so, yah asal lewat ajah. Tujuannya yang cuma pengen selesai ajah konfliknya, done!

Cara kedua mungkin agak unfair, melewati masalah tanpa menyelesaikan masalah tersebut. Sebenernya jenius sih, at least masalahnya lewat, ga perlu effort juga buat ngancurin (kecuali temboknya tinggi anet, jadi PR naiknya). Tapi bagi saya, ga berasa bebasnya. Kayak burung di sangkar emas.

Cara ketiga, terlalu grasak memang. Tapi for the sake of kepuasan, menghancurkan tembok itu seperti menghargai diri sendiri. Menyatakan bahwa saya ga mau diinjak-injak konflik, saya punya prinsip tegas yang bisa menghancurkan konflik tersebut. Agak arogan, tapi juga menyenangkan! 🙂 Eh bagi saya sih…

Saya ngga paham ini saya nulis tentang apa. Tapi yang jelas apapun konflik yang anda alami, sebenarnya prinsip yang anda pegang harusnya mendirect anda untuk menyelesaikan konflik sebagaimana maunya anda. Kalau justru karena konflik tersebut prinsip anda goyah, emmmm bukan prinsip namanya Hahahahaha. So, tentukan situasi dan kondisi anda, jangan mau situasi dan kondisi menentukan anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s