Menurut saya: sate itu lebih enak dimakan malam hari. Ya tidak?

Pernah satu kali, saat istirahat kantor seorang teman mengajak saya makan sate di pinggir jalan. Saya spontan bertanya kepadanya “Hah, sate? Siang gini?”

Entahlah, tapi buat saya Sate Ayam yang pake bumbu kacang itu sudah terbiasa jadi makan malam saya. Masalah kebiasaan kali yah, tapi saya ngerasa aneh saja kalau memakannya di siang hari.

Kalau berbicara soal sate, saya langsung terbayang dinginnya malam yang bercampur asap dari kipasan arang yang redup terang mengikuti irama angin. Menurut saya kalau siang-siang, saya kurang menikmati warna terang si arang itu. Agak saru dengan cahaya di siang hari.

Soal sate, menurut saya agak kurang lengkap saja kalau tanpa bawang goreng. Saya itu tipe orang yang mudah makan. Di balik mudah makan secara harafiah (baca: mudah lapar), saya bukan tipe pemilih makanan.

Sate itu menurut saya kurang bisa dibedakan mana yang enak atau tidak. Hampir semua sate yang saya makan dengan bawang goreng, menurut saya enak. Hanya saja, beda mungkin kalau sate dengan bumbu kacang mede. Tapi menurut saya, sate 15ribu-20ribuan itu tetap juara.

Nah, kalau teman-teman, iya tidak sih sate biasanya lebih seru kalau disantap malam hari? Duh, padahal sate kan pakai lontong yah. Astagah, bikin gendut! Tapi menurut saya, lebih enak saja begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s