Nonton film Eropa, kenapa tidak?

Hello! Siapa di antara kalian yang suka banget nonton film? Pasti banyak. Namun, kalau saya tanya  film dari mana yang teman-teman sukai, mungkin banyak yang menjawab film Amerika. Nggak salah sih! Memang bioskop Indonesia dari dulu dirajai oleh film-film buatan Amerika kok!

Nah, hampir tiga tahun belakangan ini saya sedang mencoba memperluas film yang saya konsumsi. Sebenarnya saya bukan movie addict yang separah itu, tapi menurut saya menonton film bisa jadi alternatif lain untuk mencari ide dan referensi

Untuk itu, saya mulai menonton film-film Eropa. Bahkan tahun ini adalah tahun ketiga saya datang ke Europe on Screen 2017, sebuah pekan pemutaran film Eropa tahunan. Festival tersebut memutar film box office, dokumenter, sampai animasi buatan negara-negara di Eropa.

Ada beberapa catatan yang saya highlight soal film-film Eropa. Entah mengapa problem yang diambil selalu punya penyelesaian yang kerap serba salah. Membuat saya berpikir dua kali kira-kira bagaimana solusi dan ending film tersebut.

Kemudian saya juga memperhatikan bahwa film-film Eropa sangatlah cair. Oh! Saya ceritakan dulu! Salah satu film yang saya tonton dan cukup frontal adalah Toni Erdmann. Pasalnya, ada sebuah adegan tentang seorang perempuan yang mencapai limit stress-nya dan kemudian mengadakan naked party di rumahnya.

Well, saya kaget saat melihat adegan ini! Bahkan beberapa orang di belakang saya merasa risih, kemudian mulai terdengar kata-kata: astaga, wow, ya ampun, dan sebagainya.

Entah mengapa tapi walaupun menampilkan adegan seperti itu, toh saya tidak ‘turn on’ secara seksual. Bukan karena hasrat seksual saya, tapi lah toh ini arahnya bukan ke bokep! Saya jadi mikir, duh apa masa iya masyarakat Indonesia se-horny itu sehingga adegan ciuman saja diblur?

Maaf kalau ini agak frontal, tapi rasanya sensor film di Indonesia seakan memperlakukan masyarakat Indonesia sebagai orang yang horny-an. Orang yang lihat ciuman atau belahan dada saja langsung turn on. Yailah… I think its too much!

Itu sih soal sensor. Balik lagi ke nonton film Eropa ya! Duh, bukan hanya film box office atau yang menang festival saja, tapi film dokumenter mereka juga bagus-bagus. Saya banyak menonton film dokumenter soal konflik di Syria dan hampir semua konflik yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan. Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh.

Misalnya saja, Raving Iran, sebuah film dokumenter tentang sulitnya dua DJ asal Tehran yang sulit survive dengan musik mereka. Bayangkan, vokalis nggak boleh cewek, plus musik EDM saja nggak boleh! Lah bagaimana? Ya itulah konfliknya, membingungkan dan solusinya jadi di luar kepala.

So, cobalah cari lagi referensi film yang unik deh! Pasalnya melihat konflik yang baru dalam sebuah film bisa jadi memunculkan ide-ide segar yang mungkin bisa ke-pop up kapan saja. Setidaknya asupan inspirasi kita tidak monoton dari pola pikir film Amerika saja.

Terus dimana nyarinya? Coba cari tahu sendiri soal festival film di Indonesia. Mungkin kamu juga bisa banget datang ke IFI yang punya program Cinemacet. Program ini menayangkan film-film festival di jam 19.00. Selamat mencoba ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s