Litsy, aplikasi penghubung para pembaca buku lintas dunia

Terhubung karena media sosial memang penuh dengan pro dan kontra. Ada yang bilang hal ini menjauhkan yang dekat; tapi ada pula yang justru berpikir sebaliknya. Saya sih pro dengan pemikiran media sosial sebagai penghubung, untuk mendekatkan yang jauh. Lah ya makanya kalau lagi dekat sama orang jangan mainan media sosial, ngobrol kek, jadian kek šŸ™‚

Berhubung pekerjaan saya sangat dekat dengan media sosial, saya adalah salah satu pengguna banyak aplikasi media sosial. You name it; sampai sekarang saya masih aktif di Path, Instagram, Twitter, GooglePlus, Stellar, YouTube, Flickr, Soundcloud, WordPress, bahkan Tumblr. Ha! Jangan tanya bagaimana saya maintain semuanya, saya punya asisten soalnya! Becanda deng šŸ™‚

Kenapa banyak banget? Karena bagi saya yang suka berpikir aneh tentang banyak hal, penting untuk membagi post apa yang saya pikir tersebut. Misalnya saja, saya suka menulis soal romansa; ya masa iya saya share ke Path atau wordpress ini yang sebenarnya saja isinya terlalu campur aduk. Makanya saya buat tumblr.. tumblr. juga saya buat karena nggak mau nyampah di Path saja.

Memang sebagian orang masih menggandrungi Path sebagai media sosial harian mereka. Tidak salah juga, pasalnya Path bisa merangkum segala yang kita lakukan setiap hari; mulai dari sekadar apa yang kita kerjakan, share video, foto, lokasi, sedang baca buku apa, nonton apa, hingga mendengarkan musik apa. Namun, saya menyadari kalau Path jadi terlalu luas bagi saya.

Awalnya hampir semua momen penting saya share ke Path; mulai dari komentar terhadap tempat baru hingga ulasan (agak panjang) dari series yang saya tonton. Kemudian saya jadi berpikir, apakah memang semua teman saya tertarik membacanya. Mungkin ada teman saya yang suka nonton kemudian baca review saya; tapi mungkin ada juga mereka yang sama sekali tidak tertarik dengan film. Akhirnya mereka justru terganggu dengan momen review film saya.

Got my point? Anyway, its only my bridging. Sekitar beberapa malam lalu saya berpikir -sepertinya akan seru kalau ada media sosial khusus untuk para pembaca buku; karena saya memang suka baca buku.

Saya tahu dulu ada Goodreads Indonesia, sebuah komunitas untuk pembaca buku di Indonesia. Komunitas yang keren banget, tapi blame me karena saya tidak punya waktu lagi untuk join ke komunitas. Bagi saya join ke komunitas memang butuh komitmen dan saat ini, aduh waktu untuk tidur saja kurang. Kalaupun saya join mungkin saya hanya akan jadi anggota pasif yang nggak seru.

Saya akhirnya buka-buka apps store dan menemukan aplikasi Litsy; sebuah media sosial untuk para pembaca buku. Saya pun mengunduh aplikasi tersebut karena penasaran. OH TERNYATA IM IN LOVE WITH THAT APP!

Saya seperti berada dalam sebuah kumpulan yang tepat untuk sharing seputar buku yang saya baca. Mereka yang menggunakan aplikasi Litsy tentulah suka baca buku; dari mereka pun saya jadi tahu kira-kira buku apa saja yang bisa saya masukkan ke list belanja saya.

Apa lagi yang seru? Saya bisa tracking berapa buku serta berapa halaman yang sudah saya baca di sepanjang hidup. Well, its good to be on track!

Memilih media yang tepat untuk konten yang tepat

Di akhir tulisan ini saya sekalian akan berbincang seputar konten media sosial. Nggak, bukan sebagai orang yang ahli juga, tapi ya ingin berbagi saja. Mungkin ada baiknya teman-teman memilih apa yang disebar di media sosial teman-teman.

Kembali lagi seperti kisah saya di awal, nggak semua orang suka melihat review, curhatan, atau mungkin musik yang sedang kita dengar. Tapi, kalau memang alasan kita ngeshare di media sosial hanya untuk berbagi; tanpa ada keinginan untuk dibaca (baca: “ya nggak dibaca juga nggak apa-apa), ya go with it šŸ™‚ Toh kembali lagi media sosial kan cerminan siapa yang ingin kita bangun.

Pokoknya sesukanya lah, oh lagipula kalau tidak suka konten seseorang di media sosial kita tinggal berhenti follow atau unfriend saja. Anyway ya jangan sakit hati juga kalau di-unfollow atau unfriend; ya kan yang nggak disuka bukan orangnya tapi kontennya.

Baca juga: Satu kaya yang tidak boleh kamu ucapkan saat meminta maaf

Itu saja sih sharing kali ini. Kepanjangan ya? Kalau kepanjangan, lets skip everything dan anggap saja artikel ini adalah tulisan soal rekomendasi aplikasi untuk pembaca buku. Yash, buat kamu para pembaca buku, silakan coba Litsy!

Advertisements

2 thoughts on “Litsy, aplikasi penghubung para pembaca buku lintas dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s